Info KontesDapatkan informasi lomba & pameran

si “Dokter” endog dari kota pesantren

Sobat mesintetas.com,

   Kisah Inspiratif kali ini datangnya dari kota pesantren, kota yang memiliki banyak sekali santriwan dan santriwati  yang berdatangan silih berganti dan berduyun-duyun untuk belajar nyantri kepada ajengan, Mereka datang  dari dalam maupun luar kota Tasikmalaya. Kota Tasikmalaya disebut juga dengan kota pengrajin, kenapa kota ini disebut dengan kota pengrajin : “karena kota tasik memiliki sentra kerajinan yang luar biasa dari model hasil karya kerajinan, bahan material dan juga teknik pembuatan kerajianan yang beragam, sebut saja bilangan sekitar Rajapolah adalah salah satu kecamatan yang berada diutara kabupaten tasikmalaya. Sepanjang jalan Rajapola berderet toko-toko kerajinan yang menjajakan produk keunggulan dari kota tersebut, misal anyaman tradisional berbahan baku eceng gondok, bambu dan mendong bisa kita telusuri sepanjang toko tersebut.

   Kembali kepada topik sebelumnya si “Dokter” Endog dari kota pengrajin, julukan yang diberikan pemuda usia 25 tahun (saat itu) bukan sembarangan julukan yang asal disematkan kepada dirinya. Beliau memiliki banyak sekali pasien bukan bilangan satu atau dua “pasien” saja bahkan sudah mencapai ratusan pasien (wah keren ), tentu pastinya pasien dari si “dokter” endog adalah pasien yang berkecimpung seputar endoq juga baik berasal dari para peternak ayam,peternak bebek maupun komunitas pencinta unggas lainya. Kadang beliau juga dimintai keterangannya sebagai “pakar” atau bahasa kerennya mungkin “staf ahli” kali yah, karena keahlian beliau dalam pengetahuan dan menciptakan mesin tetas telur. tidak sedikit beliau di mintai keterangan sebagai “konsultan” (ciee ille konsultan nih ye) oleh petugas dinas peternakan di kota Tasikmalaya (masih penasaran siapa si “dokter” unggas tersebut”, sabar ya bos!).

Akhirnya kita mulai menelusuri  siapa si “dokter” endog tersebut, soub ?

   Beliau adalah seorang pemuda inovatif, warga dari kampung Sukahurip, desa Sinagar, kecamatan Sukaratu kabupaten Tasikmalaya Jawa Barat. Pemuda inovatif tersebut bernama Kemaludin saat diusianya 25 tahun, beliau mencoba meraih peruntungan di dunia mesin tetas telur. Keberhasilan menciptakan mesin tetas telur sederhana dan memberikan kontribusi pada masyarakat sekitar dengan menggagas kelompak  ternak, bersama kawan seperjuangannya kemaludin cs mulai membentuk kelompok Penetasan Unggas Jaya Mekar Sukaratu. Tahun 2011 pemerintahan kota Tasikmalaya dibidang teknologi tepat guna menyematkan pengukuhan kepada Kemaludin sebagai Pemuda pelopor.

 

Awal kisah si pemuda inspiratif,

   Dikutip dari berbagai halaman informasi berita dan biografi online. Ditahun 2008 lalu Kemaludin si pemuda inspiratif yang pantang menyerah tersebut mulai menggeluti bidang ternak khususnya di pengadaan bibit ternak unggas, permasalahan saat itu yang dihadapi adalah banyaknya peternak didaerahnya mengalami kesulitan mendapatkan “anakan” unggas. Para peternak unggas harus keluar daerah kota Tasikmalaya untuk bisa mendapatkan anakan, dari situlah sang pemuda pelapor melihat peluang sekaligus membantu memecahkan masalah peternak unggas.  Dengan memiliki sejumlah sisa uang tabungan sebesar Rp 500.000, Kemaludin berusaha mencari buku untuk menambah pengetahuan mengenai dunia penetasan telur. Beliau berinisiatif untuk membeli buku tentang alat tetas telur, ternyata tidak cukup hanya disitu soub, masalah yang dihadapi oleh kemaludin, pelan-pelan kemaludin mulai mengidentifikasi masalah dengan mengecek harga mesin tetas buatan pabrikan yang berkisar sekitar 1.5 juta- 2 juta rupiah per unit, mulai disinilah kemaludin berpikir keras

  Tentu saja uang yang ada tadi tidak akan cukup untuk membuat mesin tetas sempurna sekelas pabrikan,terlebih sudah dibelanjakan buku buku alat tetas telur, belum lagi material dan bahan baku lainnya untuk bisa menghasilkan sebuah alat mesin tetas telur yang sederhana dan murah meriah. Dengan Kecerdasannya terbelesitlah kemaludin untuk mencoba merombak lemari pakiannya menjadi sebuah mesin tetas telur dengan kapasitas 300 telur, walhasil  dari 200 butir telur yang dimasukan kedalam “lemari tetas telur” hanya 100 telur unggas yang berhasil menetas, sisanya membusuk dan gagal menetas setelah 28 hari masa penetasan. Karena keberhasilan hanya mencapai 50 % kemaludin kemudian kembali mencari penyebab kegagalan penetasan telur dari “lemari tetas telur” ternyata masalah yang di hadapi adalah arus listrik  rumah  yang sering kali padam yang tidak jelas, inilah yang memfaktori banyaknya telur tidak menetas secara sempurna.

 Lagi-lagi kemaludin mampu memecahkan masalah dengan berpikir sederhana” bagaimana “lemari tetas telur” terus mendapatkan asupan listrik agar suhu panas sekian derajat celcius secara sempurna mengalir keseluruh telur telur tersebut. Dengan inovasi dan berpikir kreatif, kemaludin mendapatkan solusi yaitu dengan menambahkan minyak jelantah sebagai bahan bakar alternatif untuk menganti arus listrik dengan minyak jelantah, kreatif bukan.

 Semangat pantang menyerah telah dibuktikan oleh seorang pemuda yang inovatif dan berpikir kreatif  bernama kemaludin, pemuda pelopor dari kota pengrajin. Semoga semangat ini menularkan virus kewirausahaan kepada para pemuda diseluruh pelosok nusantara yang mau berjuang dan berkorban memperbaiki hidup dan bermanfaat untuk sekitarnya.

Terima kasih Kang kemaludin yang menjadi inspiratif bagi kita semua.